Apakah Pengembangan Koperasi Merah Putih Bermanfaat?

Pemerintah menargetkan akan mengembangkan 18.000 Koperasi Merah Putih pada tahun ini. Pengembangan lembaga usaha ini bertujuan untuk mendukung program ketahanan pangan Presiden Prabowo. Lalu apakah program ini akan bermanfaat?

Secara teoritis pengembangan Koperasi Merah Putih akan sangat bermanfaat bagi masyarakat. Karena bakal fungsi sebagai penyalur sarana pertanian, termasuk pupuk subsidi, menampung hasil panen, menjadi pusat edukasi petani, sekaligus nantinya menjadi penyedia bahan baku untuk program makan siang bergizi. Jelas sangat bermanfaat jika dilihat  dari aspek tersebut.

Namun masalahnya ada paradigma dalam pengembangan Koperasi Merah Putih berorientasi proyek atau dengan sistem top down. Mengembangkan usaha ekonomi memerlukan waktu. UMKM yang dikembangkan oleh seseorang yang memiliki pengatahuan saja dapat gagal. Perlu waktu 2 -3 tahun memastikan suatu usaha yang baru dikembangkan mampu bertahan.

Masalahnya karena berorientasi proyek, bahwa pemerintah harus segera membentuk. Akan ada banyak proses yang dilompati, salah satunya yakni pembinaan SDM. Mempersiapkan pengurus dan pengelola koperasi yang kompeten memerlukan waktu. Dan ini juga tidak menjamin bahwa Koperasi yang dikembangkan akan berhasil.

Banyak yang tidak menyadari bahwa koperasi adalah badan usaha yang kompleks.  Hal yang harus dipahami adalah, koperasi sesungguhnya aqual dengan perusahaan publik. Jika perusahaan tbk masyarat dapat memiliki sahamnya, maka kepemilihan koperasi ada pada anggota. Direksi pada perusahaan tbk bertanggung jawab kepada pemilik saham, sementara pengurus koperasi bertanggung jawab kepada anggota. Jika perusahaan tbk membagikan deviden maka koperasi membagikan SHU.

Namun yang berbeda, perusahaan tbk umumnya memiliki managemen yang bagus, transparansi terbangun, serta direksi sangat berkompeten  dan pengalaman dalam mengelola bisnis. Mereka umumnya menguasai mulai dari keuangan, SDM, pemasaran hingga managerial. Sementara pengurus koperasi tidak jarang berpendidikan rendah, di tambah wawasan pengelolaan bisnis yang sangat minim. Sehingga tidak perlu heran jika perusahaan tbk terus berkembang sementara banyak koperasi yang mandek di tengah jalan.

Jadi penguatan kompetensi pengurus, pengembangan sistem bisnis, peningkatan edukasi anggota menjadi isu sentral pengembangan Koperasi Merah Putih yang tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Sementara jika sekedar membuat koperasi dan lainnya tidak sulit. Selain itu kebiasaanya di Indonesia, umumnya heboh pada saat Pembangunan dan pengembangan dan sepi pada saat pemeliharaan dan pendampingan.

Saran terbaik adalah, sebaiknya Koperasi Merah Putih dikembangkan dari koperasi yang sudah ada dan terbukti berjalan. Sementara untuk yang baru dibentuk sebaiknya ada semacam masterplan pembinaan dan pengembangan dalam 3 tahun. Selain itu ada kualifikasi yang jelas siapa saja yang layak menjadi pengurus Koperasi Merah Putih. 

Comments